<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2601189592578007187</id><updated>2012-02-16T15:48:17.179+07:00</updated><title type='text'>me and blog</title><subtitle type='html'>tak seorang pun yang bisa membuat dirinya berharga kecuali dirinya sendiri
dan tak seorang pun akan mempunyai nilai di mata tuhan , manusia dan isi semesta alam tanpa berbuat apa-apa
mulailah berbuat.......
mulailah saat ini......</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://gieyogie.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2601189592578007187/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gieyogie.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>gieyogie</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_2XjK9vHPdZc/R20aWQKwntI/AAAAAAAAAAk/LLypKZk61YQ/S220/BADUI+BROTHER.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>1</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2601189592578007187.post-2488019459110372064</id><published>2007-12-21T22:54:00.000+07:00</published><updated>2007-12-21T23:07:43.039+07:00</updated><title type='text'>Menata Kota dengan Pikiran Terbuka</title><content type='html'>&lt;p align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kritik             Atas Pandangan Saini KM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;            &lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:180%;"&gt;Menata Kota dengan Pikiran Terbuka&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;            Oleh HAWE SETIAWAN&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;KANG Saini yang bijak bestari telah membuka diskusi. Di ruangan ini, 19 Januari             lalu, ia menulis "Kota, Kota Mati, dan Kota Tertutup". Dengan itu ia             menyumbangkan gugusan gagasan perihal masalah perkotaan. Oleh karena pokok bahasannya             menyangkut hajat hidup orang banyak, perkenankan saya urun rembuk.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Jalan pikiran si empunya konsepsi cukup mudah diikuti. Pertama-tama ia mengemukakan             gambaran kota yang dianggap ideal, berikut standar moralitas yang terkandung di dalamnya,             dengan mengacu pada gambaran atau imajinasi mengenai kota-kota kuno pada zaman Yunani             Klasik. Kemudian dari ketinggian konsepsi ideal tersebut, ia memandang ke bawah untuk             mengidentifikasi masalah perkotaan dewasa ini, dengan mencemaskan kemungkinan             menggejalanya "kota mati". Sebagai upaya mencari solusi, dalam arti mendekatkan             situasi riil kepada gambaran ideal tadi, ia mengajukan usulan kebijakan mengenai             "kota tertutup".&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Mengikuti jalan pikiran seperti itu, dapat kiranya diajukan kritik yang terarah kepada             sekurang-kurangnya tiga dasar pemikiran. Pertama, sejauh mana kita bisa menjamin relevansi             dari pemandangan historis-filosofis mengenai kota kuno di Yunani dahulu kala dengan             situasi perkotaan di Indonesia dewasa ini? Kedua, tidakkah kecemasan mengenai "kota             mati" justru lebih banyak diakibatkan oleh kekeliruan yang terkandung di dalam             pengandaian sosiologis yang menganggap kota sebagai realitas sosial seakan-akan sama             dengan organisme biologis? Ketiga, tidakkah tendensi politis yang terkandung di dalam             usulan mengenai "kota tertutup" justru malah tidak relevan dengan kecenderungan             kota-kota di dunia dewasa ini sebagai ruang terbuka bagi keragaman budaya?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Baiklah kita periksa satu demi satu kelemahan yang terkandung dalam dasar-dasar pikiran             Prof. Saini, dengan harapan dapat kiranya kritik berikut memperdalam sekaligus memperluas             diskusi. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Rujukan tertutup&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Pada tataran idealnya, Kang Saini berkiblat ke Barat, persisnya ke Eropa, dan berpaling             ke masa silam yang sudah lama terbenam. Secara tersirat, ia membayangkan kota yang ideal             sedikit banyak menyerupai kota kuno di Yunani Klasik (500 SM). Dibayangkannya benteng             (atau garnisun, tentu) yang mengelilingi kota, untuk melindungi pasar, akademi, panggung             kesenian, tempat pemujaan, kantor pemerintahan, dan sudah pasti rumah-rumah penduduk di             dalamnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Kita tahu, orang Yunani, seperti halnya Kang Saini dan aparat polisi, sangat menekankan             ketertiban dan keteraturan. Dalam hubungannya dengan kota, ukuran ketertiban dan             keteraturan itu diwujudkan dalam undang-undang atau peraturan kota. Siapa menaati aturan             dan mau hidup tertib, tentu dianggap beradab. Sebaliknya, siapa yang tak tertib atau hidup             sembrono, apalagi jika mempersetankan filsafat dan kesenian, pasti dia disebut kaum             "barbarian".&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Seperti mengikuti gagasan dan impian para sarjana orientalis klasik, semisal Simon             Ockley yang menulis &lt;i&gt;History of the Saracens&lt;/i&gt; itu, Kang Saini secara malu-malu             membandingkan gambaran keberadaban orang Yunani dengan "ketidakberadaban" orang             Arab Islam di mata sarjana Barat -- meski ia pun menyadari arogansi yang tersembunyi di             balik istilah "saracens" atau "barbarian" itu. Terkait ke situ, dapat             kiranya diajukan pertanyaan, "Mengapa untuk menangani masalah perkotaan hari ini di             'Timur' sini, kita mesti mengambil rujukan atau referensi nun jauh ke belakang di Barat             sana?"&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Secara tidak langsung, Kang Saini sendiri telah mengedepankan alasan bahwa             "kota-kota paling tua" -- yang dianggap ideal -- itu, yakni yang terdapat di             Yunani Klasik itu, "kita kenal dalam sejarah dan secara tertulis relatif             lengkap". Alasan demikian sebetulnya sangat goyah. Pasalnya, dari sejarah atau dari             bahan tertulis yang tak kurang lengkapnya, kita sebetulnya dapat juga merujuk ke kota-kota             di belahan bumi lainnya. Misalnya saja, pada dasawarsa 1950-an, para arkeolog telah             menggali sejumlah lahan yang mengubur kota-kota kuno di India. Seperti dicatat oleh A.L.             Basham, orang yang menulis buku klasik &lt;i&gt;The Wonder that was India&lt;/i&gt;, dua ribu tahun             sebelum orang Yunani menjarah tanah India, kota kuno Mohenjo Daro dan Harappa di India             dikenal sebagai kota yang tak kalah rapi dan tak kalah tertib jika dibandingkan dengan             kota-kota di Yunani.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Bahkan, sosiolog Max Weber yang dengan bagus sekali pernah merumuskan definisi atau             ideal tipe mengenai apa itu kota, dan menulis buku &lt;i&gt;The City&lt;/i&gt;, tidak cuma merujuk ke             Yunani. Untuk memperdalam pemahamannya mengenai kota, Weber juga merujuk ke Rusia, Jerman,             Roma, bahkan juga mengacu ke Mesir, Saudi, Cina, dan wilayah-wilayah lain di Asia.             Hasilnya adalah definisi atau gambaran mengenai seluk-beluk kota yang benar-benar dapat             dipertanggungjawabkan secara ilmiah oleh karena memang ditopang dengan referensi yang             memadai.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Dengan begitu kiranya kita dapat menyadari bahwa terdapat cukup banyak referensi yang             penting dan perlu kita rujuk untuk memperdalam dan memperluas pengertian kita mengenai             masalah-masalah perkotaan. Belum lagi kita juga perlu dan penting mempertimbangkan secara             serius kekhususan kondisi objektif di setiap tempat dan zaman yang berlainan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Mengedepankan gagasan mengenai masalah perkotaan dengan hanya merujuk pada secuil bahan             dari sejarah klasik -- apalagi jika gagasan itu membawa pretensi moral dan politis --             kiranya bukan hanya gegabah secara ilmiah, melainkan juga teledor secara moral. Kang Saini             yang cerdik cendekia sungguh ada banyak dunia lain di luar Yunani, di atas hamparan bumi             yang maha luas ini. Begitu pula konsep tentang moral dan peradaban dari waktu ke waktu             terus dihadapkan pada tuntutan peninjauan kembali sejalan dengan perubahan zaman.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Sejarah tidak berhenti pada titik 500 tahun Sebelum Masehi. Sungguh, Kang Saini, betapa             jauh jarak terbentang antara masa 500 tahun Sebelum Masehi dan tahun 2004 di &lt;i&gt;lawang             seketeng&lt;/i&gt; abad ke-21 ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Kecemasan berlebihan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Gambaran mengenai "kota mati" ciptaan Prof. Saini masih samar-samar bagai             kabut dini hari. Hanya sambil lalu ia menyinggung-nyinggung "kota mati" seperti             yang pernah dialami oleh Kota Miami di Amerika Serikat di tahun 1960-an. Ungkapan             "yang pernah dialami" dalam hubungannya dengan kematian justru menyiratkan bahwa             kematian itu tidak benar-benar terjadi. Lagi pula, memang, hingga hari ini Kota Miami             masih tertera dalam peta dan masih bisa kita kenali penduduknya, tak terkecuali lewat             layar televisi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Dengan kata lain, konsep "kota mati" hanya menawan secara metaforis, tapi             tidak meyakinkan secara sosiologis. Kelemahan konseptual tersebut, kalau kita bongkar             secara radikal, jelas bersumber pada kekeliruan anggapan atau asumsi sosiologis yang             melihat realitas sosial seakan-akan sama dengan organisme biologis. Padahal, sudah jelas             bahwa kota sebagai realitas sosial bukan organisme biologis sehingga kota tidak sepenuhnya             bisa dibandingkan dengan makhluk hidup.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Akan tetapi, begitulah, bahkan secara tersurat Kang Saini mengatakan bahwa "kota             adalah suatu organisme" dan "kota menyerupai makhluk hidup". Oleh karena             itu, makhluk hidup bisa mati, tatkala roh mengucapkan selamat tinggal kepada tubuh,             kiranya bisalah dipahami sebab-musabab Prof. Saini sampai terjebak dalam imajinasi             mengenai "kota mati".&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Setiap mahasiswa S-1 yang pernah mengikuti kuliah pengantar filsafat sosial pasti             mengetahui bahwa pandangan sosiologis seperti yang dianut oleh Prof. Saini lazim disebut             "Organisisme". Di bidang sosiologi, Herbert Spencer kiranya adalah salah seorang             penganut pandangan demikian. Organisisme pada hakikatnya beranggapan bahwa realitas sosial             sama dengan organisme biologis. Menurut keyakinan para penganutnya, sebagaimana makhluk             hidup bisa lahir tumbuh dan mati, begitu pula realitas sosial bisa muncul, bertumbuh dan             bertambah lantas berakhir.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Sementara untuk memberi kesan ilmiah, Prof. Saini mengatakan bahwa "para ilmuwan             menyadari bahwa kota adalah suatu organisme", kiranya perlu dan penting dikatakan             bahwa terdapat pula para ilmuwan sosial yang menyadari bahwa realitas sosial bukanlah             organisme biologis. Apabila orang menganggap realitas sosial sama dengan organisme             biologis, berarti dia melupakan aspek kesadaran dan kreativitas dalam kehidupan             masyarakat. Sel-sel dalam tubuh bertumbuh dan bertambah sedikit banyak secara alamiah dan             hingga batas tertentu dapat dikatakan berlangsung dengan sendirinya. Tidak demikian halnya             dengan kehidupan masyarakat sebab selalu ada dimensi kesadaran dan kreativitas manusia             yang cenderung dapat menyiasati segala macam tantangan alam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Bahkan, apa yang kita sebut "kebudayaan" pertama-tama dan terutama justru             berkaitan dengan soal kesadaran dan kreativitas manusia dalam hidup bermasyarakat. Oleh             karena itu, organisisme dalam filsafat sosial cenderung mengabaikan aspek kreativitas dan             kesadaran manusia maka pandangan seperti itu sering berujung dengan gambaran tentang             kehidupan masyarakat yang menunjukkan ciri-ciri "Darwinisme sosial".&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Itulah sebabnya Prof. Saini secara berlebihan membayangkan situasi &lt;i&gt;bellum omni             contra omnes&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;homo homini lupus&lt;/i&gt;. Ia seakan-akan malah melupakan kemampuan             manusia untuk senantiasa menjalin negosiasi, kesepakatan, dan pertukaran pikiran di antara             mereka, tak terkecuali dalam mengurus keperluan hidup sehari-hari di sebuah kota --             sesuatu yang sangat penting dalam setiap kebudayaan. Dengan demikian, konsep kabur             mengenai "kota mati" kiranya hanya merupakan ekspresi dari kecemasan berlebihan             akibat dianutnya praduga yang keliru mengenai realitas sosial.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Meskipun Prof. Saini berbicara seraya mengatasnamakan prinsip-prinsip             "humanisme", tetapi konsepsinya yang kabur perihal "kota mati" justru             malah menyiratkan semacam fatalisme sekaligus kekerasan filosofis yang cenderung tidak             percaya pada niat baik manusia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Pikiran terbuka&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Pada awal tulisannya, Prof. Saini mengatakan bahwa salah satu latar belakang dari             gugusan gagasannya perihal "kota mati" dan "kota tertutup" itu adalah             pertemuan antara Wali Kota Bandung Dada Rosada dan "sejumlah kalangan" belum             lama ini. Adapun di antara tokoh yang menjadi bagian dari "sejumlah kalangan"             itu, berdasarkan sebuah berita dalam &lt;i&gt;Pikiran Rakyat&lt;/i&gt;, tak lain dan tak bukan adalah             Prof. Saini sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Dengan demikian, ketika gagasan mengenai "kota tertutup" disampaikan di depan             Wali Kota Dada, kiranya terdapat tendensi politis di balik gagasannya. Maksudnya, gagasan             tersebut disampaikan tentu dengan harapan dapat memengaruhi keputusan politik seorang wali             kota yang baru dilantik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Apabila orang menyadari tendensi seperti itu, kiranya dapat disadari pula signifikansi             dari gagasan yang dikemukakan oleh Prof. Saini. Bukan tidak mungkin gagasan perihal             "kota tertutup" itu lantas diamini dan diterapkan oleh Sdr. Dada Rosada sehingga             memengaruhi kehidupan seluruh warga kota. Padahal seperti yang telah dievaluasi tadi,             pokok-pokok pikiran di balik konsep "kota tertutup" itu sendiri mengandung             kelemahan-kelemahan yang bersifat mendasar. Bagaimana mungkin suatu kebijakan politik             bertopang pada landasan yang goyah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Bertopang pada landasan yang goyah itu tadi, Prof. Saini mengartikan "kota             tertutup" sebagai "kota yang sesuai dengan keterbatasan daya tampung demografis,             fisik, sosial, dan ekonomisnya, melakukan berbagai upaya pembatasan, hingga kehidupan             warganya dan pendatang akan tetap manusiawi, bermartabat, dan beradab".&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Salah satu kata kuncinya adalah "pembatasan". Adapun yang dimaksud dengan             "pembatasan", berdasarkan contoh-contoh yang dikemukakannya adalah semacam pintu             tertutup bagi arus urbanisasi dan investasi yang dianggap bakal merugikan. Sesuai dengan             jalan pikiran yang melandasinya, "pembatasan" seperti itu diyakini sebagai             prasyarat bagi terciptanya kualitas hidup warga kota yang "manusiawi, bermartabat,             dan beradab" (kata kunci lainnya).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Tentu saja logika seperti ini sesuai dengan rujukan historis-filosofisnya itu tadi,             yang meyakini bahwa peradaban bisa diciptakan atau dijamin oleh adanya undang-undang atau             aturan. Alasannya, kata Prof. Saini seraya mengutip slogan Yunani Klasik, &lt;i&gt;barbarians             know no laws&lt;/i&gt;. Terhadap jalan pikiran demikian, dapat kiranya diajukan pertanyaan,             siapa yang harus membuat "pembatasan", atau siapa yang harus merumuskan             "aturan"? Melalui prosedur politik seperti apa aturan mesti dirumuskan? Kepada             siapa pembuat aturan mesti berpihak?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Menurut saya, pertanyaan-pertanyaan seperti itu mesti dijawab terlebih dahulu sebelum             memutuskan perlu tidaknya membuat aturan tertentu. Pasalnya, berdasarkan pengalaman selama             ini, ancaman terhadap keamanan dan kenyamanan warga kota, tak terkecuali ancaman terhadap             alam lingkungannya, justru sering bersumber pada kepentingan segelintir orang yang             berkerumun di sekitar pembuat keputusan serta pada proses politik pembuatan keputusan itu             sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Ancaman terhadap ekosistem Babakan Siliwangi yang kebetulan disinggung-singgung oleh             Prof. Saini, misalnya, justru merupakan salah satu contoh mutakhir yang memperlihatkan             betapa para pembuat keputusan dan segelintir orang di sekelilingnya cenderung hanya             memerhatikan kepentingan sempit yang berjangka pendek dan tidak begitu menghiraukan             kepentingan sebagian besar orang yang berjangka panjang. Dengan kata lain, aturan atau             undang-undang belum tentu menjamin perbaikan hidup manusia selama pembuatan aturan itu             cenderung dikuasai oleh segelintir elite dan tanpa melalui prosedur politik yang             benar-benar demokratis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Alih-alih mengamini usulan mengenai "pembatasan" dari Prof. Saini, saya             sendiri lebih cenderung mengajukan usul "perluasan" di dalam kerangka pelayanan             publik di sebuah kota. Kota yang baik rasa-rasanya bukanlah kota yang lingkungan hidup             warganya dibatasi oleh rupa-rupa aturan. Kota yang baik, saya kira, adalah kota yang             sebagian besar warganya, baik pribumi maupun pendatang, bisa hidup sedemikian rupa             sehingga kehadirannya diakui, kemerdekaan dan keragamannya dihormati, suaranya             didengarkan, dan kebutuhannya dipenuhi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Adapun untuk itu pertama-tama dan terutama diperlukan kesanggupan untuk mengembangkan             pikiran yang terbuka terhadap keluasan dimensi hidup manusia. Demikianlah, Kang Saini yang             bijak bestari, manusia tidaklah sama dengan monyet-monyet malang yang dihalau oleh polisi             dari jalan-jalan raya di New Delhi belakangan ini.***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;i&gt;Penulis&lt;/i&gt; &lt;i&gt;Pemimpin Redaksi "Cupumanik"&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;i&gt;www.pikiran-rakyat.com&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2601189592578007187-2488019459110372064?l=gieyogie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gieyogie.blogspot.com/feeds/2488019459110372064/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2601189592578007187&amp;postID=2488019459110372064&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2601189592578007187/posts/default/2488019459110372064'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2601189592578007187/posts/default/2488019459110372064'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gieyogie.blogspot.com/2007/12/menata-kota-dengan-pikiran-terbuka.html' title='Menata Kota dengan Pikiran Terbuka'/><author><name>gieyogie</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_2XjK9vHPdZc/R20aWQKwntI/AAAAAAAAAAk/LLypKZk61YQ/S220/BADUI+BROTHER.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
